Empat Desa di Kabupaten SBB Gelar Panas Pela Darah

ZonaInfo.id, Piru – Desa Lohia Sapalewa menggelar Panas Pela Darah dengan tiga desa lain yang ada di Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Panas pela berlangsung, Selasa (8/11/2022) dengan melibatkan empat desa yakni, Lohia Sapalewa, Laturake, Uet, dan Sikasale.

Hadir Asisten III Setda SBB Donal de Fretes, Danramil Letda Sadar Lessy, Camat Taniwel, Kapolsek, pimpinan OPD, serta masyarakat setempat.

Pantauan media ini, dalam acara Panas Pela Darah tersebut setiap kepala adat dari keempat desa merumuk bersama dengan menusuk jari tangan dengan duri pohon lemon atau jarum hingga mengeluarkan darah.

Darah tersebut dicampurkan dengan minuman tradisional sopi dan dijadikan satu lalu diminum bersama oleh setiap perwakilan.

Sekretaris Desa Lohia Sapalewa Wempi Manakane dalam sekapur siri menjelaskan, Pela Darah ini muncul atas gerakan hati dari para moyang negeri.

Dimana pada zaman itu, terjadi peperangan yang tak pernah berhenti, kemudian mereka menurunkan dua gadis yang berjalan di depan pasukan perang tanpa busana.

Setelah kedua gadis tersebut berhadapan muka dengan para kapitan dari tiga negeri ketika melihat ada perempuan tanpa busana mereka lalu berhenti sejenak dan mengatakan perang ini akan berakhir.

Dengan demikian, kata dia, maka atas kesepatan itu pun maka ketiga desa tersebut berdamai dan bersepakat untuk mengangkat sumpah dan janji mengikat Pela, akhirnya hingga kini tetap di peringati sebagai lembaran sejarah yang tak pernah terlupakan yang diperkuat dengan sumpah janji Pela dan ikatan ini tetap dikenang sampai tutup mata.

“Mari katong bagandeng tangan baku ika janji, laeng rindu sayang laeng, laeng bantu laeng, jaga persahabatan dan sekutuan, ikatan erat tali Pela tersebut bagaikan akar beringin membungkus batu dan tolase membalut batu tidak goyah atau terlepas sampai selamanya,” tandas Manakane.

Penjabat Bupati Andi Chandra As’aduddin dalam sambutannya yang dibacakan Asisten III Donal de Fretes mengungkapkan, di Maluku atau pulau Ambon dan pulau-pulau Lease khususnya di Seram terdapat salah satu lembaga adat yang sampai saat ini masih tetap dipertahankan dalam kehidupan masyarakat yakni ikatan Pela.

Dijelaskan, Pela menjadi dasar utama dari hubungan sosial, kultural di Maluku sejak prakolonial sampai dengan saat ini. Pela merupakan suatu ikatan persahabatan atau persaudaraan

yang dilembagakan antara seluruh penduduk pribumi dari dua negeri atau lebih.

Ikatan tersebut, kata Bupati, telah ditetapkan oleh para leluhur dalam keadaan yang khusus dan menyertakan hak-hak serta kewajiban-kewajiban tertentu bagi pihak-pihak yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, negeri-negeri adat yang berada di Maluku maupun di SBB masih tetap mempertahankan identitas Pela hingga saat ini dalam bentuk janji yang mengikat sebagai orang basudara dengan saling menerima dan menjaga ketertiban dalam suatu hubungan sosial dan kultural.

“Panas pela darah yang diselenggarakan ini merupakan sarana atau media baku dapa atau bertemu antara negeri yang berpela untuk membicarakan dan menyelesaikan berbagai persoalan hidup diantara mereka demi untuk lebih mengkokohkan hubungan pela diantara mereka,” ujarnya. (Zl-19)

%d blogger menyukai ini: