“AMBON HEBAT AMBON MAJU KINI DAN NANTI”

OPINI DALAM RANGKA HUT KOTA AMBON KE 446

(sebuah catatan reflektif oleh: POLLY KORITELU)

Dalam Perspepektif Sosio-teologis serta sosio-historis khususnya dalam “perspektif waktu” Kota Ambon dapat menghitung deret waktu dalam bentangan waktu siklus Numeric 446 tahun. Satu rangkaian usia yang tidak lagi muda bahkan sudah sangat tua. Dalam bentangan waktu KRONOS yang demikian panjang kota Ambon tidak sekedar ada namun berada dalam dinamika yang menggembirakan namun acap kali dinamika yang tercipta dan “diciptakan” berbanding terbalik dengan ekspektasi warga kota ini. Namun demikian kota ini telah berjasa dalam bentangan waktu kurang lebih 100 tahun belakangan; karena pernah menorehkan sebuah catatan sejarah factual; kalau keberadaannya pernah menjadi satu kesatuan embrio yang ikut serta menjelma menjadi ibu kandung yang melahirkan republik ini. Ambon bukan saja Jong Ambon yang dikenal, namun Ambon adalah sebuah gagasan filosofis tentang konteks Aman, maju tapi juga sombong kearah nan jauh di sana. Ambon dalam perpektif Kronos ini telah memperlihatkan satu bentangan waktu keberadaannya yang panjang dan mengukir sejumlah kenangan indah dalam kebesaran sejarah, melahirkan berbagai tokoh penting yang turut berkontribusi merekonstruksi sejarah diri serta sejarah hebat bangsa ini… Sebut saja Alm Bung Jo Leimena,,,putra Ambon yang cerdas, berwibawa dan penuh integritas telah sangat berjasa melahirkan berbagai hal yang ikut memenuhi lembaran sejarah Republik ini dengan peran-peran penting yang dilakoninya demi kemaslahatan bangsa…Dalam bentangan waktu sejarah yang panjang itu pula Ambon pernah menjadi sebuah kota peradaban penting tidak saja di Republik ini namun di Asean, Asia bahkan dunia Internasional. Bahwa sesungguhnya keberadaan Ambon berdasarkan fakta Historis pernah menjadi sangat penting dan akan terus penting selama eksistensi keberadaannya. Bahwa karena Ambon dan kawasan Lease bahkan beberapa kawasan lain di sekitarnya pernah menjadi demikian sangat penting dan esensial bahkan sanggup mengusik ketengan kaum-kaum terkemuka di belahan dunia Eropa dan sekitarnya untuk mencari di mana letak Ambon island itu?. Ambon pernah merangsang andrenalin kemanusiaan mereka untuk menciptakan lembaga keuangan pertama yang kemudian menjadi embrio kelahiran bank pertama di dunia untuk mendanai ekspedisi dari satu proses untuk menemukan Ambon Island guna menerima satu kuasa Impartasi Aman, Maju namun juga sombong nan jauh di sana.

Sungguh dari perspektif Sosio-Teologis dan Sosio-Historis Ambon sungguh membanggakan namun juga sungguh mencemaskan dalam banyak realitas, karena dalam perjumpaan dengan sesama bahkan dengan yang lain dalam prinsip interaksi sosial, interaksi politik, interaksi keamanan memperlihatkan pula sebuah harapan nan jauh di depan namun juga sebuah kecemasan tiada tara….Dalam kaitan itulah sebagai seorang akademisi serta seorang pribadi yang menghamba kepada Tuhan saya mengajak setiap warga kota AMBON dalam perspektif KAIROS agar setiap kita dapat menggunakan setiap kesempatan terbaik yang ada untuk membuat hidup kita menjadi jauh lebih bermakna dari hari-hari AMBON kemarin dalam bentangan waktu Kronos yang panjang.

KAIROS yang saya maksudkan adalah: minimal dalam kurun waktu hamper 10 tahun belakangan, dalam Fakta Objektifnya Ambon relative damai, stabil bahkan ikut menciptakan sejarah baru dengan meraih begitu banyak prestasi dalam kancah nasional maupun internasional…Saya bermaksud mengatakan bahwa dalam perspektif Kairos itulah mari kita menciptakan “merekonstruksi” sejarah kita masing-masing melalui bentangan waktu yang panjang dalam pengalaman ke-Ambonan kita semua. Mari setiap kita bangga menjadi orang Ambon dan tetap membuat Ambon menjadi Manise kini dan nanti melalui Kairos ini yakni: membuat hidup jadi bermakna untuk diri pribadi, Membuat hidup jadi bermakna & berkontribusi positif dengan sesama dan membuat hidup ini jadi semakin bermakna dengan Tuhan sang pencipta.

Ambon itu harus tetap menjadi pusat peradaban manusia yang penting dalam fakta KEMAJEMUKAN-NYA tidak saja di masa lalu tetapi juga kini dan nanti. Ambon haruslah tetap Ambon yang besar dalam kebesaran jiwa yang sportif dan bersahaja. Ambon tetaplah Ambon yang berbkat dan mau mengembangkan setiap bakat itu. Ambon haruslah tetap menjadi Ambon yang penuh semangat dan elegan. Ambon adalah sebuah entitas yang harus tetap bermartabat dan bertanggung jawab menciptakan kesejateraannya sendiri. Ambon harus tetaplah Ambon yang apa adanya namun adaptis dalam fakta kemajemukan. Ambon haruslah menjadi Ambon membumikan spirit potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng dipatah dua. Ambon tetaph Ambon yang maju dan Hebat dan bukanlah sekedar Ambon yang makang Puji dan untung nama hilang belanja….Ambon haruslah menjadi satu tempat yang selalu dirindukan setiap putra Putri Ambon yang sedang berdiaspora di daerah, propinsi dan Negara lain…karena di Ambon-lah Rumah tua dan Baileonya, di Ambon-lah terdapat dusun-dusunnya, di Ambon-lah terdapat gunung Tanah-Nya, di Ambon-lah ada batu pamalinya dan di Ambonlah tempat dia dilahirkan oleh tete nene moyangnya… Banggalah menjadi bagian penting dari Ambon kini dan nanti.

Ijinkan saya mengucapkan terimakasih dan hormat saya yang sebesar-besarnya bagi Pa Richard Louhanapessy, SH dan pa Syarif Helder yang telah dipercayakan Warga Kota Ambon serta direstui Tuhan Yang Maha Esa dalam hampir 5 tahun terakhir untuk menjadi Nakhoda kapal Ambon. Melalui mereka dan di tangan merekalah banyak prestasi prestisius diraih sekalipun banyak pula yang meresistensi dan dan mencerca…inipun menjadi sebuah catatan penting bagi pasangan pribadi yang dipercaya warga kota Ambon dan direstui Tuhan Yang maha Kuasa untuk tetap menakhodai Ambon dengan melihat semua perspektif penting dalam fakta ke-Ambonan kita.  Dan bagi Basudara semuanya sesama warga kota Ambon mari kita terus maju mereduksi sejarah kelam diri kita, merekonstruksi sejarah hidup kita agar totalitas Ambon kini dan nanti akan menjadi sebuah harapan yang membahana dalam optimism kita semua… salam hormat saya P. Koritelu…..TABEA.

%d blogger menyukai ini: