Wali Kota Ambon Masih Kaji Pembelajaran Tatap Muka

ZonaInfo.Id, Ambon – Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengungkapkan, dirinya masih mengkaji penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah.

Kajian yang matang harus dilakukan untuk mengantisipasi klaster baru di sekolah.

“Kemarin saya dapat berita bahwa ada 1.300 sekolah di Indonesia yang itu menjadi klaster baru Covid. Oleh karena itu saya lagi mengkaji dan memperhitungkan apakah memang sudah waktunya  untuk Pembelajaran Tata Muka dilaksanakan di Kota Ambon” jelas wali kota kepada ZonaInfo.id di Ambon, Jumat (24/9/2021).

Pertimbangan lainnya, kata Wali Kota, mempertimbangkan gelombang ketiga penyebaran Covid-19.

“Para pengamat juga mengantisipasi bahwa kita harus berikhtiar terhadap kemungkinan adanya gelombang ketiga. Ini yang menjadi faktor pertimbangan kita” ujar Wali Kota.

Selain itu, kata mantan Ketua DPRD Maluku ini,  hasil survei yang dilaksanakan oleh lembaga survei, di atas 50 persen orang tua  menyatakan sekolah tetap dilaksanakan secara online.

“Ini semua menjadi kajian kita. Oleh karena itu saya akan betul-betul mengkaji bersama-sama dengan instansi terkait lalu kita betul-betul mengambil kebijakan secara arif” kata Wali Kota.

Mantan Ketua DPD Golkar Kota Ambon ini mengatakan, kalau PTM mau diterapkan Pemkot Ambon akan melakukan simulasi terlebih dulu.

“Kita mungkin mulai awal dengan SMP. Dan sekolah-sekolah sudah harus mempersiapkan protokol Kesehatan, soal mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, kemudian fasilitas umum seperti toilet. Ini harus disiapkan semuanya kalau tidak ini menjadi bumerang buat kita. Jangan sampai kita gegabah mau tunjukkan kita sudah bisa padahal dampaknya itu akan lebih fatal. Dan itu akan berat untuk Pemerintah Kota Ambon” tuturnya.

Karena itu, dengan status Kota Ambon sudah ada di zona kuning dengan angka skorsing menurun, tetap harus dikaji dengan baik proses PTM.

“Memang awalnya saya berpikir sudah bisa tatap muka. Tetapi dengan kondisi terakhir jumlah  1.300 sekolah itu terkonfirmasi dan muncul gelombang ketiga  maka saya antisipasi” kata Wali Kota.

Memang diakui, resiko dari segi kualitas  dan sebagainya kalau PTM belum dilaksanakan. Tetapi jangan karena kepentingan guru, anak-anak menjadi korban.

“Tetapi ini resiko. Walau memang resiko itu dari mutu tetapi jangan karena kepentingan guru dan kelompok, lalu anak-anak menjadi korban. Ini yang menjadi pertimbangan” tandas Wali Kota.

Oleh karena itu, lanjut Wali Kota, pihaknya masih mengkaji secara lebih  hati-hati pemberlakuan PTM.

“Saya cukup punya alasan karena dari survei itu 53 persen itu orang tua menghendaki jangan dulu tatap muka. Ini yang menjadi pertimbangan, sedangkan 40 persen kalau bisa offline ,” ujarnya.

Hal lain, Pemkot Ambon juga mengkaji guru-guru yang sudah divaksinasi. Karena itu, pihaknya mempertimbangkan betul edaran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia yang menghendaki paling tidak setiap sekolah sudah 80 persen anak-anak yang divaksin untuk bisa laksanakan PTM.

“Nah ini yang kita pertimbangkan semua dan kita mulai uji coba misalnya ada sekolah 80 persen anak sudah vaksin  boleh kita coba, tetapi itu juga mungkin hanya 50 persen. Itu akan kita coba. Karena saya sadar betul interaksi sosial antara anak-anak ini penting, tetapi jangan sampai mengorbankan mereka” tandas Wali Kota. (ZI-10)

%d blogger menyukai ini: