Dialektika Sepak Bola Frofesional dan Fanatisme Kedaerahan di Bupati SBB Cup U-16

ZonaInfo.id, Piru – Turnamen sepak bola Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Cup U-16 sudah usai, dan Nusa Ama FC keluar sebagai pemenang. Dialektika sepak bola frofesional dan fanatisme kedaerahan melebur dalam turnamen ini.

Sekretaris Panitia Turnamen Sepak Bola Bupati SBB Cup, Marcho David Pentury mengatakan, sebagai kompetisi, Bupati Cup merupakan hasil peleburan antara keprofesionalan sepak bola, dan fanatisme kedaerahan sepak bola.

“Disebutkan keprofesionalan sepak bola, karena Bupati Cup menerapkan Laws of the game yang dibuat oleh International Football Association Board dalam level kompetisi sepak bola kabupaten,” kata Pentury, Kamis (3/2/2022).

Lanjut dia, Laws of the game secara sederhana bisa diartikan sebagai aturan main yang menegakan permainan bola yang humanis, jujur, dan anti rasial. Pelanggaran terhadap kode etik dan moral, yang ada dibalik Laws of the game, konsekuensinya akan didiskualifikasi.

Berikutnya, fanantisme kedaerahan terlihat dari para pendukung yang pada saat bersamaan menegasikan identitas lokal menjadi sebuah hal penting. Sebuah identitas yang didalamnya terdapat kerumunan massa, terdiri dari berbagai individu bersatu untuk tujuan mendukung suatu tim keseblasan, dengan berlandaskan rasa kecintaan dan membawa sisi primodalismenya.

“Hal ini terlihat dari club-club yang bertanding dan terlebih khusus telah masuk final yakni SSB Gemba FC dan Nusa Ama FC. SSB Gemba FC menurut salah satu supporter mempunyai motto, lebih dari sebuah club. Artinya club menjadi simbol budaya yang didalamnya ada perasaan mental bersatu (mental efferfasemt) dalam ruang Geografis,” jelas Pentury.

Ia mengutip, Hunter (2006) dalam bukunya Place, Sport, and Globalization menunjukan ruang keseharian tidak dapat dipisahkan dari jejak material dan historis yang terbungkus oleh mesin-mesin kebudayaan massa, dan menjadi bagian dari budaya Pop Global.

Sejalan dengan Hunter, sepak bola yang kini telah menjadi simbol kapitalisme global dikonversi oleh komunitas masyarakat menjadi ruang publik keseharian untuk berolahraga. Mereka tidak anti terhadap olahraga populer, tetapi lebih jauh daripada itu, yakni gaya permainan, kostum, dan motto adalah suatu identitas demi membangkitkan kohesi sosial.

“Hal yang sama Club Nusa Ama FC yang berasal dari Negeri Iha, menjadikan sepak bola sebagai sebuah media dalam menciptakan arena integrasi sosial berbasis identitas kultural,” ujar Pentury.

Dikatakan, Nusa Ama itu sendiri merupakan nama lokal yang dijadikan sebagai media pemersatu untuk mendukung potensi-potensi pesepak bola lokal, agar bisa menjadi atlet-atlet berprestasi. Artinya mereka telah merawat tradisi olahraga berbasis komunitas tetapi juga inklusif dalam mengikuti perkembangan sepak bola secara global.

Dengan kenyataan itu akhirnya berdampak pada kanlisasi dukungan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati SBB dan ASKAB PSSI SBB untuk menghidupkan lagi kompetisi sepab bola di bumi Saka Mese Nusa dan telah menjadi agenda tahunan.

“Tujuannya didesain untuk merekrut potensi-potensi muda pesepakbola lokal, mendesain skenario pembinaan sepak bola, merancang dan mengeksekusi pertandingan-pertandingan sepak bola antar club, sebagai strategi pembentukan kapasitas pesepakbola Seram Bagian Barat,” tandasnya.

Terlebih penting energi penggemar sepak bola mampu dintransfomasikan menjadi sprit dan harapan bahwa kabupaten ini bisa maju melalui dunia sepak bola.

“Kompetisi Bupati Cup usia 16 tahun 2022 telah berakhir, dan Nusa Ama FC keluar menjadi pemenangnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan suatu waktu pasti ada juara-juara yang baru, itu pertanda bahwa zaman boleh berganti tetapi pengadian kepada negeri dan kabupaten ini akan tetap terukir di dalam sejarah,” tandas Pentury. (ZI-14)

%d blogger menyukai ini: