Dinkes Sosialisasi Vaksinasi ke Orang Tua Siswa SMA Negeri 1 SBB

ZonaInfo.id, Piru – Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) melakukan sosialisasi vaksinasi kepada orang tua siswa SMA Negeri 1 SBB.

Sosialisasi dikhususkan kepada orang tua siswa kelas X, XI dan kelas XII, yang dilakukan selama dua hari, Selasa (5/10/2021)-Rabu (6/10/2021) di Aula SMA Negeri 1 SBB.

Sosialisasi dalam rangka vaksinasi pelajar itu, disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten SBB, Johanis Tapang, dan Kepala Puskesmas rawat nginap Kairatu, Gerson Hobi.

Tapang menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah dan komite yang menghadirkan orang tua siswa untuk mendengar sosialisasi tentang vaksinasi.

“Ini langkah yang benar dan tepat yang dilakukan oleh sekolah dan komite. Karena sebelum kami melakukan vaksinasi terhadap peserta didik, langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu sosialisasi terhadap pihak orang tua murid,” kata Tapang.

Lanjut Tapang, sosialisasi penting dilakukan, sehingga orang tua siswa tahu tentang manfaat vaksin. Sosialisasi juga sekaligus menepis berita-berita hoax soal vaksin.

“Ini dilakukan biar orang tua memiliki pengetahuan tentang manfaat vaksin itu sendiri. Sosialisasi ini juga sekaligus menepis dan membantah berita-berita hoax yang beredar di media sosial maupun masyarakat, yang pada akhirnya membuat masyarakat enggan untuk divaksin,” ujar Tapang kepada orang tua siswa.

Tapang mengatakan, vaksinasi harus dilakukan terhadap siswa, mengingat SMA Negeri 1 SBB sudah melakukan belajar tatap muka setahun lebih, sehingga dikuatirkan berpotensi menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19. Karena itu, sosialisasi perlu dilakukan kepada orang tua siswa.

“Sekolah ini sudah setahun lebih telah melaksanakan sekolah tatap muka, maka oleh karena itu ada potensi menghadirkan klaster baru penyebaran virus Covid-19 sangat besar,” tandasnya.

Tapang menjelaskan, vaksinasi penting dilakukan untuk mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas 70 persen.

“Misalnya dalam sekolah ada sepuluh orang maka tujuh orang wajib divaksin, di bawah tujuh orang semuanya bisa kena, itu yang pertama. Yang kedua, yang sudah divaksin bisa saja dia kena covid, tetapi kalau sudah divaksin seseorang bisa terlindungi dari penyakit yang lebih berat. Misalnya seseorang yang tidak divaksin dia bisa mengalami kelumpuhan atau meninggal, tetapi yang sudah divaksin pasti sakitnya hanya demam atau menggigil dan tidak sampai pada meninggal,” papar Tapang.

Tapang juga menjelaskan, seseorang yang sudah divaksin bisa juga langsug kena covid. Karena itu, ia mengingatkan agar seseorang kalau sudah divaksin harus beristirahat selama 14 hari.

“Setelah divaksin kepada seseorang vaksin ini belum bisa bekerja dalam tubuh seseorang. Masa kerjanya itu selama empat belas hari, dan oleh karena itu dianjurkan atau disarankan untuk seseorang yang baru divaksin jangan sekali-kali berkerja keras, ini sangat berbahaya bagi keselamatan tubuhnya,” ujarnya.

Kata Tapang, ada persepsi yang salah di masyarakat bahwa jika sudah vaksin tidak perlu pakai masker dan jaga jarak.

“Ini pemahaman yang keliru dan salah. Setelah divaksin protap Covid-19 tetap dilaksanakan. Kita masih dalam situasi pandemi bukan endemis. Kalau kita sudah masuk pada masa endemis maka kita sudah bisa hidup dalam kehidupan biasa atau normal,” ungkapnya.

Kepada orang tua siswa, Tapang juga mengatakan, saat siswa hendak divaksin ada beberapa tahapan yang akan dilakukan.

“Saat bapak ibu mengizinkan anak-anaknya divaksin di sekolah ini ada beberapa tahapan yang akan kami lakukan secara medis termasuk melakukan skrining oleh dokter. Kalau ada anak-anak yang ada memiliki penyakit bawaan tolong jujur disampaikan buat kami tenaga medis,” tandasnya.

Ia menambahkan, vaksin yang nantinya digunakan pada dosis pertama adalah vaksin Sinovac. Nantinya dosis kedua, juga disuntikan vaksin yang sama.

Kepala SMA Negeri 1 SBB, Zeptinus Kainama juga menambahkan kepada orang tua siswa, kalau vaksinasi merupakan program pemerintah yang harus dilakukan di setiap satuan pendidikan.

“Jadi pihak sekolah hanya bisa memfasilitasi dan mengidentifikasi berapa banyak siswa yang nantinya mau menerima vaksin,” ujarnya. (ZI-14)

%d blogger menyukai ini: