Pantai Tomayuri Jadi Kawasan Wisata Mangrove

ZonaInfo.id, Piru – Pantai Tomayuri di Desa Kairatu, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dikenal sejak dulu adalah kawasan hutan mangrove. Luas kawasan pantai Tomayuri diperkirakan kurang lebih 20 hektar.

Kawasan pantai Tomayuri awalnya milik keluarga Petu Niak dan Johanis Rumahlatu. Letak Kawasan itu diapit oleh sungai Samin. Terlihat dari kejauhan, seperti sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh laut dan sungai.

Kurun waktu berjalan sekitar tahun 1980 kawasan itu dijual ke seorang nelayan Bernama La Sale. Kemudian di tahun 1999 saat terjadi konflik sosial di Maluku, kawasan itu dijual ke seorang pengusaha asal Jawa Tengah bernama Heru.

Di tangan Heru, kawasan itu diubah menjadi kawasan wisata mangrove. Untuk menambah keindahan, ia menanam pohon Cemara. Deretan pohon Cemara yang ditanam teratur, menambah nilai estetika yang memanjakan mata setiap orang yang berkunjung di sana.

Heru mengatakan, dirinya membutuhkan waktu enam tahun untuk merubah Pantai Tomayuri menjadi kawasan wisata mangrove.  

“Mimpi untuk jadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata mangrove dalam kawasan ego wisata terwujud. Jadi memang ada rekayasa pemikiran untuk menyulap kawasan ini menjadi daya tarik masyarakat yang akan berkunjung di pantai Tomayuri,” ujarnya, kepada ZonaInfo.id, Kamis (11/11/2021).

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan lahan seluas dua hektar untuk pembangunan ruang praktek siswa SUPM Maluku. “Ini untuk budi daya ikan air Payau,” kata Heru.

Lanjut Heru, sesuai rencana kawasan wisata Pantai Tomayuri akan diresmikan oleh Bupati SBB, Timotius Akerina pada Minggu, (21/11/2021). “Kami sudah membentuk panitia peresmian,” ujarnya.

Ketua Panitia Peresmian, Marco Jansen Pentury mengatakan, panitia melibatkan Angkatan Muda GPM Ranting Pniel Kairatu dan Remaja Mesjid Kairatu.

“Ini wujud kolaborasi toleransi umat beragama yang kita wujudkan sebagai pesan persaudaraan yang hakiki dan sejati untuk menjadikan kawasan wisata mangrove ini sebagai tempat pertemuan toleransi umat beragama yang cinta akan persaudaraan sejati di Bumi Saka Mese Nusa sebagai hubungan orang basudara di Maluku pada umumnya,” kata Pentury.

Selain itu, kawasan ini akan dijadikan sebagai kawasan untuk menjaga ekosistem dari kerusakan lingkungan, dan menjaga kearifan lokal yang mencerminkan budaya lokal.

“Kawasan ini juga dilengkapi dengan sarana hiburan berupa banana boat, bebek air, dan rafting. Rafting untuk pertama kalinya diuji coba pada hari 7 November kemarin, titik starnya dari sungai Riuwapa yang berjarak kurang lebih 10 KM, dan finish di muara sungai Riuwapa,” jelasnya.

Kedepan kawasan wisata ini akan dilengkapi dengan waterboom, resto tempat mancing, penginapan, dan akan ada penyediaan kuriner bagi pengunjung yang berwisata.

“Kami optimis kedepan kawasan wisata ini akan berkembang dan mampu menciptakan tenaga kerja bagi masyarakat lokal,” ujar Pentury. (ZI-14)

%d blogger menyukai ini: