Ragam

Vanath: Pertumbuhan Ekonomi Tergantung Perputaran Uang dari Tiga Sektor Utama

ZonaInfo.id, Ambon – Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, menegaskan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada perputaran uang yang bersumber dari tiga sektor utama yaitu sektor pemerintah (APBN dan APBD), sektor swasta/investasi, serta sektor perbankan.

Vanath menyampaikan hal ini saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Maluku, Kamis (6/8/2026), di Hotel Grand Avira.

Menyangkut sektor swasta, kata Vanath, keamanan dan kemudahan perizinan menjadi syarat mutlak hadirnya investasi.

“Iklim usaha yang kondusif dan aman sangat diperlukan agar investor tidak ragu menanamkan modalnya di Maluku, belajar dari dinamika investasi masa lalu,” tandasnya.

Pada sektor perbankan, Vanath mendorong keterlibatan lembaga keuangan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) agar perluasan akses kredit tidak hanya didominasi oleh sektor formal atau pegawai, melainkan lebih menyasar ke UMKM dan usaha ultra mikro.

Menurutnya, IWAPI perlu mengambil peran di segmen ini. Selain mendorong kemitraan dengan perbankan.

IWAPI diharapkan ikut mendidik dan mendampingi para pelaku usaha UMKM dalam hal manajemen keuangan serta pencatatan usaha yang akuntabel.

Vanath menyoroti tantangan fundamental ekonomi Maluku yang masih rentan terhadap kebocoran arus uang (capital outflow).

“Meski dana transfer pusat dan anggaran daerah masuk hingga puluhan triliun rupiah, sebagian besar uang tersebut kembali mengalir ke luar daerah melalui konsumsi barang pabrikan, material konstruksi, hingga ketergantungan pasokan pangan pokok seperti beras,” ujarnya.

Untuk menjaga keseimbangan arus modal tersebut, Maluku dituntut untuk memperkuat daya saing komoditas unggulan daerah agar mampu mendatangkan pendapatan dari luar.

“Pondasi ekonomi kita harus diperkuat. Uang yang keluar untuk belanja barang dari luar harus diimbangi dengan penjualan komoditas lokal seperti hasil perikanan, rempah pala, dan kelapa yang dikemas secara profesional agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar luar,” tandas Vanath.

Vanath berharap forum Rakerda IWAPI dapat melahirkan program-program kerja konkret, inovatif, dan berorientasi pada penguatan UMKM serta kemandirian ekonomi masyarakat di Maluku.

Ia mengapresiasi kematangan IWAPI yang kini telah menginjak usia 51 tahun dalam berorganisasi. Kehadiran IWAPI diharapkan mampu menjadi motor penggerak sektor swasta dan UMKM di kawasan ini.

“IWAPI sudah tuntas dengan urusan organisasi. Namun dari sudut pandang pemerintah daerah, kita perlu memadukan perspektif kondisi ekonomi Maluku saat ini agar menjadi referensi strategis dalam penyusunan program kerja Rakerda,” ujar Vanath.

Sebelumnya, Ketua DPRD IWAPI, Nita Bin Umar, dalam sambutannya, mengatakan IWAPI berkomitmen untuk berinovasi dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

“IWAPI berkarya dengan mendorong perempuan pengusaha agar terus berkembang, kreatif, dan mampu menciptakan peluang baru. UMKM jaya adalah cita-cita kita bersama untuk membangun usaha yang tangguh, berdaya saing, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” tandasnya.

Ia menjelaskan, kemajuan ekonomi Maluku sangat bertumpu pada semangat dan kerja keras para pelaku usaha, termasuk perempuan pengusaha. Kemandirian ekonomi daerah dinilai menjadi fondasi utama dalam mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat.

Nita juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemkot Ambon, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus memberikan dukungan dan kepercayaan.

“Melalui Rakerda kedua ini, kita mengevaluasi program yang telah berjalan, menyusun langkah strategis ke depan, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak demi kemajuan IWAPI dan pemberdayaan UMKM di Provinsi Maluku,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP IWAPI, Dyah Anita Prihapsari menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Maluku yang mencapai 5,3 persen pada triwulan II mengungguli angka nasional sebesar 5,1 persen. Capaian ini menunjukkan potensi besar daerah yang bertumpu pada hasil bumi, pertanian, kehutanan, hingga komoditas unggulan seperti cengkih dan pala.

“Mari kita sebagai perempuan pengusaha tingkatkan kreativitas. Hasil bumi dan kearifan lokal Maluku, seperti kopi rempah tradisional, perlu dikemas secara modern agar menjadi produk promosi unggulan yang bernilai jual tinggi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya adopsi teknologi bagi para pelaku UMKM agar tidak tertinggal di era transformasi digital. Sebagai bentuk dukungan nyata, DPP IWAPI telah meluncurkan platform digital iwapi.or.id yang mencakup fitur organisasi, e-Marketku, e-Akademiku, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk promosi produk.

Dyah mengatakan, IWAPI juga menjalin berbagai kolaborasi strategis, mulai dari program beasiswa dan magang digitalisasi bersama Apple Developer Academy, pembentukan Kampung Hortikultura bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, hingga kemitraan jaringan bisnis perempuan tingkat internasional melalui ASEAN Women Entrepreneurs Network (AWEN) dan BRICS Women’s Business Alliance. (ZI-21)

Tinggalkan Balasan