Lintas Daerah

GMPRI Kecam Kapolres Buru, Biarkan Penambangan Ilegal di Gunung Botak

ZonaInfo.id, Namlea – Pengurus Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI) Cabang Buru mengecam Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukijang, karena membiarkan penambangan emas ilegal di Gunung Botak.

Kritikan pedas itu dilontarkan GMPRI menanggapi semakin menjamurnya eksavator yang aktif beroperasi di tambang emas ilegal Gunung Nona dan Sungai Waemkedan, Desa Wapsalit, Kecamatan Loloquba, Kabupaten Buru.

Aktivitas tersebut terindikasi kuat merusak hutan, mencemari air sungai, sehingga rakyat kehilangan sumber hidup, serta negara dirugikan miliaran rupiah.

GMPRI meminta AKBP Sulastri Sukijang untuk mundur dari jabatan, kalau tidak mampu.

GMPRI mengeluarkan peringatan keras ditujukan kepada Kapolres yang berbunyi, “kami tidak butuh alasan jika dalam tujuh kali 24 jam tidak ada penindakan nyata di lokasi tambang emas ilegal Gunung Nona, maka kami anggap anda ikut terlibat dan backing mafia tambang”.

Menanggapi realitas memalukan yang terjadi di sana, GMPRI memberi beberapa catatan antara lain, eksavator bebas beroperasi setiap hari, tidak ada satupun penindakan serius dari Polres dan Polsek Waeapo.

“Ada apa dengan Kapolres Buru dan Kapolsek Waeapo. Jangan jadi backing mafia tambang ilegal, jangan khianati sumpah jabatan dengan uang haram, ” tulis GMPRI.

Selanjutnya, GMPRI menyeruhkan agar ditegakkan hukum dan bukan pilih kasih. “Kami mendesak Kapolres Buru dan Kapolsek Waeapo segera bertindak tegas tangkap pemilik alat berat penangkap semua pelaku tambang emas ilegal Gunung Nona dan di Sungai Waemkedan,” tulis mereka.

Kapolres diminta agar menutup total aktivitas tambang emas ilegal di Gunung Nona dan Sungai Waemkedan, serta mengamankan semua excavator dan alat berat.

“Proses hukum semua pelaku tanpa pandang bulu, bersihkan nama baik Polri dari noda pembiaran dan backing,” seruhkan GMPRI.

Ketua GMPRI Cabang Buru, Irfandi Makatita yang ditemui semalam membenarkan selebaran yang terlanjur beredar luas di dumay facebook serta diteruskan di beberapa group WA bersumber dari organisasinya.

Tidak ingin berbicara banyak, Makatita minta Kapolres segera tegas bertindak menangkap pelaku tambang ilegal yang menggunakan alat berat eksavator.

Pemilik eksavator yang menyewakan alat beratnya beroperasi di tambang ilegal juga harus ditangkap dan ditersangkakan karena  turut serta membantu merusak ekosistim alam di lokasi tambang sehingga lingkungan di sekitarnya menjadi rusak.

Salah satu tokoh pemuda adat, Fandi Nacikit ikut bersuara keras menyaksikan menjamurnya alat berat eksavator di Gunung Nona dan Sungai Waemkedan.

Fandi Nacikit dalam kicauannya di Facebook menulis, kalau pemerintah pusat, provinsi, Pemda Buru dan seluruh aparat penegak hukum serta kaum intelektual hanya fokus pada Tambang Gunung Botak. Tapi mereka lupa bahwa ada kejahatan besar  dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab di wilayah tambang Gunung Nona atau di sebut air panas.

Menurut tokoh pemuda adat ini, pengerukan material emas menggubajan ekskavator ini berlangsung dari Gunung Nona hingga sepanjang Sungai Waemkedan.

“Ini mereka menggunakan alat berat untuk menggali emas tanpa izin. Lalu pertanyaannya kenapa

Polda Maluku, Polres Buru, Polsek Waeyapu hanya diam dan sengaja membiarkan alat berat terus menerus melakukan aktivitas secara ilegal, ” tandas Fandi.

Mantan anggota dewan asal PDIP yang kini beralih profesi menjadi advokat, Sami Latbual ikut bersuara keras di dinding facebooknya dengan menulis kalau penggalian emas secara ilegal  menggunakan alat berat adalah tindakan pidana dan itu melawan hukum.

Pekerjaan ini menggunakan alat berat (seperti ekskavator atau buldoser) untuk mengambil emas dan memperparah skala kerusakan lingkungan serta mempertegas bahwa kegiatan tersebut bukan lagi penambangan rakyat tradisional yang berskala kecil.

Tapi tegas Sami, perbuatan itu adalah kejahatan besar melawan  hukum dan siapapun yang terlibat serta mengizinkan, membeking serta mendanai harus dipenjarakan.

Dia mengungkapkan, Buru adalah pulau yang kaya Sumber Daya Alam. Emas telah ditemukan pada berbagai tempat bukan hanya Gunung Botak (Lea Bumi).

Perhatian kini juga mulai tertuju  di seputaran, Tita’r Pito, Fude Emhuka atau yang ramai saat ini dengan Nama Gunung Nona dan yang paling ramai dalam sungai Waemkedan di Wilayah desa Waepsalit seperti yang terlihat dalam Video ini ada beberapa eksavator juga bekerja.

Disarankan agar sebaiknya  jangan eksavator kerja seperti itu. “Berbagai SDA ini kalau dikelola dengan baik maka sangat bermanfaat bagi daerah dan nasyarakat, ” ujar Sami.

Sampai berita ini dikirim Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukijang belum berhasil dihubungi untuk dikonfirmasi perihal dugaan pembiaran puluhan eksavator beroperasi di tambang emas di Gunung Nona dan Sungai Waemkedan.

Hendak ditemui di kantornya, Sulastri Sukijang tidak masuk kerja karena sedang bertugas ke Ambon.

Kasie Humas Polres, Ipda Jaya Permana yang dimintai keterangan masih belum berkomentar banyak karena harus menunggu berkonsultasi dengan atasannya yang sedang berada di Ambon.

Menurut Ipda Jaya saat Polres Buru memberikan himbauan kamtibmas di lokasi tambang Gunung Nona beberapa bulan lalu, tidak ditemukan ada eksavator yang beroperasi. Karena itu ia sempat dibuat heran ketika wartawan menyebut kini di sana eksavator telah menjamur hanya dalam tempo beberapa bulan.

Menurut Jaya ia perlu berkonsultasi atau meminta petunjuk terlebih dahulu ke atasannya AKBP Sulastri Sukijang sebelum memberikan keterangan kepada pers terkait masalah ini.

Selanjutnya informasi yang berhasil dikumpulkan sepekan terakhir menyebutkan lebih dari 30 unit eksavator yang sedang beroperasi di tambang Gunung Nona dan Sungai Waemkedan.

Yang mengejutkan diantara alat berat yang beroperasi itu, terlihat ada pria bertampang Cina diduga WNA asal Tiongkok yang juga sedang mengais emas.

Menurut beberapa saksi mata, oknum yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu selalu didampingi warga asal Unit 16 bernama Iman yang beralamat tempat tinggal di Desa Jikumerasa, Kecamatan Liliyali.

Informasi yang berhasil dihimpun lebih jauh menyebutkan satu unit eksavator yang masuk beroperasi akan ditagih bayaran sebesar 50 juta.  Ada juga biaya lainnya, termasuk uang siri-pinang yang harus diberikan.

Salah satu penagih uang sewa alat berat masuk ke tambang disebut bernama Umar beralamat tempat tinggal di Unit S, Kecamatan Waelata.

Umar ini disebutkan juga pernah mengutip uang jutaan rupiah dari para pengusaha yang mengoperasikan eksavator.

Konon katanya, uang puluhan juta rupiah itu untuk kegiatan hut bhayangkara di Polda Maluku.

Saat media ini hendak mengkonfirmasi dengan Umar, nomor HPnya ternyata tidak aktif.

Sejumlah nama  dan pemodal yang pernah beroperasi di tambang Gunung Botak diduga yang mencukongi alat berat eksavator di Gunung Nona dan Sungai Waemkedan.

Sumber terpercaya menyebutkan lebih dari 16 pemodal pernah dipanggil di Reskrim Polres Buru. Namun sumber ini tidak menyebutkan lebih jauh alasan pemanggilan itu.

Agus, salah pengusaha yang pernah mengoperasikan alat berat di sana mengaku pernah dimintai uang oleh Umar untuk kegiatan di kepolisian dan ia memberi tiga juta rupiah.

Umar sempat memintanya untuk menghubungi yang lain agar ikut beri upeti berkedok hut bayangkara ini.

Pesan itu diteruskan kepada pengusaha yang lain dan Agus tidak pernah menjadi peluncur untuk mengutip langsung. Semua itu dilakukan oleh Umar.

Beberapa nama yang sempat dikantongi wartawan kalau para oknum ini memodalin usaha pengerukan emas di sana dengan eksavator.

Mereka antara kain Haji H, Haji G, Haji S, Haji W. Lelaki berinisial W ini baru saja bebas dari penjara karena terlihat dalam kasus kontener berisi B3 yang jatuh di laut Dermaga Namlea yang menyebabkan  ribuan ikan mati mendadak waktu itu.

Media ini sempat diberi nomor kontak Haji W. Namun saat dihubungi, nomor itu tidak aktif.

Selain nama di atas ada juga pemodal wanita berinitial Ibu R. Si ibu ini jarang tampil di publik di Wapsait dan selalu mempercayakan satu pekerjanya bernama Mas Nur yang berurusan dengan Umar dan pihak luar lainnya.

Ada beberapa nama lagi disebut ikut mengerahkan eksavator, yakni Mas S beralamat di Unit 10 dan Mas M beralamat di Unit 17.

Satu nama lainnya berinisial SU, turut bermain eksavator di sana. Selain bermain langsung, ada beberapa eksavator miliknya ikut disewakan kepada orang yang lain.

Dari beberapa nama yang disebut, ada satu nama oknum pensiunan dini polisi dan tiga prajurit yang masih aktif.

Dua nama anggota DPRD Buru juga disebut turut bermain eksavator di sana.

Wartawan media ini mencoba mengkonfirmasi langsung ke kedua oknum dewan. Namun dicari di kantor DPRD, keduanya tidak berada di sana.

Salah satu anggota dewan sempat dicari ke rumahnya juga tidak dapat ditemui. Orang rumah hanya mengkonfirmasi bosnya sedang keluar.

Alat Berat Beroperasi di Gunung Botak

Selain di Gunung Nona dan Sungai Waemkedan, kabarnya dalam beberapa pekan terakhir ini ada dua unit alat berat juga sedang beroperasi di tambang Gunung Botak yang dijaga personil TNI AD.

Eksavator itu dioperasikan oleh perusahaan TriM yang diduga kuat tidak mengantongi IUP maupun IUPK di tambang Gunung Botak.

Dari bukti video dan foto yang dikantongi awak media, eksavator itu beroperasi dikawal personil TNI AD, ada yang berpakaian loreng dan bersenjata laras panjang.

Dandim 1506 Namlea, Letkol Inf Heribertus Purwanto,  dikonfirmasi media beberapa waktu lalu di DPRD Buru, mengakui kalau PT TriM lagi beroperasi alat berat di Gunung Botak.

Ia menyebut kalau sudah ada izin. Namun tidak disebutkan sumber pemberian izin.

Katanya, PT TriM  memodalin 6 koperasi pemegang IPR dan perusahaan itu mengerahkan alat  berat untuk membuka jalan dan menyiapkan camp serta perkantoran milik koperasi IPR di sana. (ZI-18)

Tinggalkan Balasan