
Bangun MIP Berbasis Data Ilmiah, Lailossa: Bukan Selera, Sentimen Teritorial Atau Politik Elektoral
ZonaInfo.id, Ambon – Perencanaan Maluku Integrated Port (MIP) sudah cukup lama. Kini menjadi Proyek Strategis Nasional. Pembangunannya berbasis data ilmiah, bukan atas selera, sentimen teritorial atau alasan politik elektoral.
Hal ini disampaikan Kepala Bappeda Provinsi Maluku, Anthon A. Lailossa dalam press release, Senin (9/3/2026).
Lailossa menjelaskan MIP merupakan Proyek Strategis Nasional (PNS), sehingga bukan akan dibangun oleh Pemprov Maluku, tapi oleh Pemerintah Pusat atau gabungan Pemerintah Pusat dan Swasta atau bahkan Swasta murni.
Ia melanjutkan, MIP merupakan Pelabuhan Ambon Terpadu yang adalah PSN, dan tercantum dalam Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025 – 2029.
“Perencanaan proyek ini telah berlangsung cukup lama dengan Lokasi di Pulau Ambon bahkan telah masuk menjadi proyek strategis nasional pada RPJMN periode sebelumnya yaitu RPJMN 2019 – 2024,” jelas Lailossa.
Lailossa mengungkapkan wacana pembangunan MIP di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) digagas oleh Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Hendrik Lewerissa (HL) dan Abdullah Vanath (AV), yang kemudian disampaikan ke Bappenas.
Apa yang disampaikan, kata Lailossa, masih sebatas ide atau gagasan. Bappenas saat itu belum memberi keputusan terkait lokasi, karena masih mempelajari usulan tersebut dari berbagai aspek.
“Jadi pandangan bahwa MIP dipindahkan dari SBB adalah merupakan diksi yang keliru karena masih merupakan gagasan dan belum sampai pada tahap pelaksanaan. Sehingga pertanyaan kritisnya, apanya yang dipindahkan? mengingat masih dalam tahap gagasan,” tandasnya.
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur strategis harus berdasarkan hasil Feasibility Study (FS) bukan atas selera, sentimen teritorial atau alasan politik elektoral.
“Harus berbasis data ilmiah. Feasibility study dilakukan dengan dana pinjaman pemerintah pusat dari World Bank yang akan dimasukkan dalam Blue Book dan Green Book di Bappenas,” ujar Lailossa.
Ia mengungkapkan hasil updated Pre-FS maupun FS sementara dari Konsultan yang dibiayai oleh Bank Dunia masih sama dengan FS sebelumnya yaitu Pulau Ambon (Wai-Liang) yang dianggap ideal karena beberapa pertimbangan:
- Konektivitas dengan moda transportasi lain di daratan yang sama (Bandara Pattimura)
- Ketersediaan infrastruktur pendukung, listrik, jalan dan lain lain.
- Keselamatan pelayaran.
- Rencana ekspansi di masa depan, dll.
“Jika membangun tanpa perencanaan yang matang, infrastruktur tersebut terancam mangkrak atau tidak optimal seperti Bandara Kertajati, Majalengka Jabar dan lain-lain,” tandas Lailossa. (ZI-21)
