
Wali Kota Soroti Tantangan Ekonomi dan Masalah Lingkungan di Sidang ke-57 Klasis GPM Pulau Ambon
ZonaInfo.id, Ambon – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menyoroti tantangan ekonomi dan masalah lingkungan saat menghadiri pembukaan Sidang ke-57 GPM Klasis Pulau Ambon, Minggu (15/2/2026), di Gereja Karn Hattin, Seilale, Kecamatan Nusaniwe.
Hadir Ketua DPRD Kota Ambon, Morits Tamaela, Anggota DPRD Kota, Jacoba Lekahena, Sekum Sinode GPM, Pdt. H. R. Tupan, Forkopimda Kota, Forkopimca, jajaran OPD Kota, para Majelis, serta undangan lainnya.
Sidang kali ini mengangkat tema “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM” dengan subtema “Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah.” Wali Kota mengatakan tema tersebut sangat relevan dengan tantangan yang sedang dihadapi, baik oleh gereja maupun pemerintah.
Wattimena menegaskan Pemerintah Kota memiliki ruang yang luas dalam meningkatkan kecerdasan intelektual masyarakat. Namun, pembentukan kecerdasan spiritual dan emosional lebih banyak menjadi ranah gereja dan lembaga keagamaan.
“Kita punya tanggung jawab bersama membangun sumber daya manusia yang berkualitas, tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter, mental, dan spiritual yang kuat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga mengungkapkan tantangan ekonomi yang dihadapi Kota Ambon pada tahun 2026, yang dipengaruhi dinamika global dan nasional. Ia mengakui berbagai kebijakan dan keterbatasan yang ada dapat berdampak langsung pada kondisi perekonomian masyarakat.
Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga ketahanan pangan, stabilitas kebutuhan pokok, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pemerintah Kota Ambon menyalurkan berbagai bantuan seperti kontainer usaha, etalase, hingga bantuan modal sebesar Rp2 juta per pelaku UMKM.
“Kita fokus membantu masyarakat agar mandiri secara ekonomi. Tinggal bagaimana kita berkolaborasi antara pemerintah dan gereja agar intervensi program tepat sasaran,” jelas Wali Kota.
Pemerintah Kota juga mendorong gerakan keluarga menanam serta pengembangan peternakan dan pemasaran hasil produksi umat sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan ekonomi kota.
Selain ekonomi, Wali Kota menekankan persoalan lingkungan, khususnya masalah sampah yang kini menjadi perhatian serius secara nasional.
Ia mengatakan Pemerintah Kota Ambon terus meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, mulai dari penyusunan regulasi, peningkatan sarana dan prasarana, hingga rencana penggunaan teknologi dalam pengolahan sampah.
“Ke depan, kita tidak hanya menampung, mengangkut, dan membuang sampah, tetapi akan mengelolanya dengan lebih baik menggunakan teknologi. Namun kami membutuhkan peran aktif dan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya memperindah kota dan menjaga lingkungan, Pemerintah Kota Ambon juga akan melaksanakan penanaman 5.000 gadihu warna-warni di sepanjang jalur-jalur utama Kota Ambon.
Wattimena berharap, melalui Sidang Klasis ini, gereja dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun Kota Ambon yang maju, mandiri, dan berkarakter, menuju satu abad Gereja Protestan Maluku.
Sementara itu, Ketua Klasis Pulau Ambon, Pdt. W. A. Beresaby, menyampaikanpersidangan tahun 2026 berlangsung saat gereja memasuki minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus. Karena itu, ia mengajak seluruh umat untuk menjadikan momentum ini sebagai ziarah iman yang meneguhkan keberanian berjalan di jalan penderitaan dan pengorbanan Kristus, yang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyatukan, memulihkan, dan menyelamatkan.
Ia menegaskan, persidangan merupakan wujud pengakuan iman sekaligus komitmen gereja untuk tetap patuh pada ajaran dan tata gereja, serta bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan sosial, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Beresaby menyampaikan, gereja akan tetap fokus pada penataan dan pengembangan internal, termasuk penyusunan rencana strategis pelayanan klasis hingga 2030, serta evaluasi dokumen pelayanan 2020–2025.
Perhatian khusus juga diberikan pada pembinaan anak, remaja, dan pemuda, termasuk pelayanan bagi warga gereja berkebutuhan khusus. Menurutnya, keluarga adalah tempat berlangsungnya pemeliharaan dan penyelamatan Allah, sehingga pembentukan karakter Kristiani anak yang berpusat pada Kristus harus menjadi prioritas.
“Tantangan generasi muda semakin kompleks, mulai dari narkoba, kekerasan, tawuran, konflik antarwarga, kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, kerusakan lingkungan hidup termasuk masalah sampah, hingga berbagai penyakit sosial lainnya,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon dan Dinas Kesehatan untuk memfasilitasi pemeriksaan HIV/AIDS bagi generasi muda gereja. Jika setiap tahun minimal 1.000 anak muda dapat difasilitasi pemeriksaan kesehatan, maka dalam lima tahun ke depan sekitar 5.000 generasi muda dapat terselamatkan masa depannya.
Beresaby kembali mengingatkan keputusan klasis agar tidak melaksanakan acara syukuran pada Jumat Agung sebagai bentuk penghormatan terhadap makna pengorbanan Kristus.
Menutup sambutannya, Beresaby menegaskan gereja dan para pelayan tidak boleh lelah dalam menjalankan panggilan pelayanan.
“Jika kita lelah dan berhenti, maka gereja akan kehilangan relevansinya sebagai pembawa kabar baik bagi umat dan dunia,” pungkasnya. (ZI-21)
