
Wattimena Sayangkan Informasi Sesat Soal BBM Memicu Kepanikan Warga
ZonaInfo.id, Ambon – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menyayangkan informasi sesat yang disebar di media sosial soal kelangkaan dan kenaikan harga BBM per 1 April 2026, sehingga memicu kepanikan warga.
Akibat panik, warga berbondong-bondong mendatangi SPBU dan membeli BBM sebanyak-banyaknya.
Wattimena meminta masyarakat Kota Ambon untuk tidak terjebak dalam fenomena panic buying atau aksi borong Bahan Bakar Minyak (BBM).
Antrean panjang yang mengular di sejumlah SPBU belakangan ini dipastikan bukan karena kelangkaan stok, melainkan akibat disinformasi yang beredar di media sosial.
Wali Kota menjelaskan fenomena ini bermula pada Senin pagi, saat hari pertama masuk kantor setelah libur panjang. Banyaknya kendaraan yang mengisi BBM secara bersamaan memicu spekulasi di tengah masyarakat.
“Persoalannya, ketika antrean panjang muncul beragam spekulasi. Kalau bahasa trennya itu panic buying. Orang akhirnya membeli BBM dalam jumlah banyak dan terus-menerus. Padahal, antrean sebanyak apapun, BBM tetap tersedia di SPBU,” ujarnya kepada wartawan di DPRD Kota Ambon, usai menghadiri Rapat Paripurna penyerahan LKPJ Tahun Anggaran 2025, dan tiga (3) Ranperda, Selasa (31/3/2026).
Wattimena menegaskan, definisi “langka” adalah jika SPBU sudah tidak lagi menjual BBM. Namun faktanya, operasional SPBU di Ambon tetap berjalan normal.
Menyikapi kegaduhan tersebut, Wali Kota langsung melakukan koordinasi cepat dengan pihak Pertamina pada Senin siang. Hasilnya, Pertamina menjamin ketersediaan stok BBM di Kota Ambon sangat mencukupi.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, ia bersama pimpinan Pertamina dan Polresta Pulau Ambon juga telah meninjau langsung SPBU Pohon Pule.
“Tadi kita cek di SPBU Pohon Pule, ternyata BBM aman-aman saja. Pertamina menjamin stok karena Ambon ini merupakan titik suplai induk untuk wilayah Indonesia Timur. Jadi tidak perlu takut,” tegas Wattimena.
Ia menyayangkan adanya informasi menyesatkan dari oknum penggiat media sosial yang memicu kepanikan warga. Selain isu kelangkaan, spekulasi mengenai kenaikan harga BBM per tanggal 1 April juga menjadi pemicu warga berbondong-bondong ke SPBU.
“Kita tidak bisa menentukan harga naik atau tidak. Kalaupun ada kebijakan kenaikan, pasti ada pengumuman resmi dari Pemerintah Pusat. Jadi jangan berspekulasi sendiri,” tandasnya.
Ia juga menyoroti dampak buruk dari kepanikan ini, yakni melonjaknya harga BBM di tingkat pengecer pinggir jalan yang tidak terkendali. Hal ini dinilai sangat merugikan masyarakat luas.
“Kami mengimbau agar semua tenang. Pemerintah menjamin kepastian stok. Jika ada pihak lain yang membangun asumsi sendiri, tidak usah dipercaya,” tandas Wattimena. (ZI-21)
