
Paparkan Capaian 17 Program Prioritas, Wali Kota Sebut Kantor Baru Kebutuhan Mendesak
ZonaInfo.id, Ambon – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, memaparkan capaian 17 program prioritas dirinya dan Wakil Wali Kota dalam satu tahun kepemimpinan, Jumat (20/2/2026), di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota.
Dalam keterangan pers, Wattimena mengatakan kebutuhan pembangunan gedung Kantor Wali Kota yang baru merupakan sebuah keniscayaan.
Ia menyebutkan, kondisi kantor saat ini sudah tidak mampu lagi menampung seluruh pegawai. Selain itu, kondisi fisik bangunan yang kerap bocor saat hujan menjadi salah satu alasan mendesak perlunya pembangunan kantor baru.
“Tujuannya untuk menjawab kondisi aktual kantor wali kota hari ini yang sudah tidak representatif, baik dari sisi daya tampung maupun estetika sebagai lambang kota,” ujarnya.
Ia mengungkapkan Pemerintah Kota juga diperhadapkan dengan aset daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Karena keterbatasan anggaran, pembangunan kantor baru tidak memungkinkan dibiayai melalui APBD. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota akan menggunakan skema Build Operate Transfer (BOT) atau Bangun Operasikan Serahkan, melalui kerja sama dengan investor.
Wattimena menjelaskan, kawasan seluas kurang lebih 7 hektare akan dikembangkan menjadi kawasan perkotaan modern. Saat ini, Pemkot Ambon telah menjalin komunikasi dengan tiga investor yang telah masuk pada tahap perencanaan dan desain. Kawasan tersebut dirancang dengan konsep kota modern berkelanjutan, menggunakan material modern serta sistem pengolahan limbah yang baik.
Dalam skema tersebut, investor akan membangun rusun ASN, apartemen, dan hotel untuk dikelola dalam jangka waktu tertentu dengan sistem bagi hasil. Setelah masa kerja sama berakhir, seluruh aset menjadi milik Pemerintah Kota. Bonus dari skema ini, adalah pembangunan kantor dan gedung perkantoran Pemerintah Kota menjadi tanggung jawab awal investor.
Selain BOT, Pemkot Ambon juga akan menggunakan skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) untuk mendukung pembangunan di tengah keterbatasan anggaran.
“Kita tidak mungkin membangun sesuatu yang megah dengan kondisi keuangan hari ini. Karena itu kita mencari alternatif pembiayaan dari investor maupun badan usaha,” tandasnya.
Terkait persoalan genangan air di kawasan Ay. Patty, Wattimena mengatakan persoalan tersebut bukan semata-mata banjir, melainkan dampak pasang air laut yang menutup saluran pembuangan saat hujan deras terjadi.
Ia menjelaskan, sistem drainase di Kota Ambon bermuara ke laut. Ketika air laut pasang dan hujan deras terjadi, air tidak dapat langsung mengalir keluar sehingga terjadi genangan.
Solusi yang disiapkan adalah pembangunan kolam retensi, yakni kolam penampungan air sementara yang dilengkapi pintu air dan pompa untuk mengalirkan air ke laut saat kondisi memungkinkan.
Pemkot Ambon telah berkoordinasi dengan pihak Balai Jalan dan menyiapkan lahan di belakang Pasar Lama untuk pembangunan kolam retensi tersebut.
“Kami sudah punya konsepnya. Tinggal menunggu dukungan anggaran agar bisa segera direalisasikan,” ungkapnya.
Wattimena mengakui, tantangan terberat dalam pelaksanaan 17 program prioritas adalah mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah daerah tidak bisa secara langsung membuka lapangan kerja dalam jumlah besar, karena tidak ada lagi penerimaan CPNS maupun tenaga honorer.
Solusi utama yang ditempuh adalah mendorong investasi. Sebab, investasi akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa keamanan kota menjadi faktor utama masuknya investor. “Kalau kondisi kota tidak aman, orang takut berinvestasi. Kalau tidak ada investasi, tidak ada lapangan kerja,” ujarnya.
Ia mencontohkan masuknya sejumlah usaha baru yang mampu menyerap puluhan tenaga kerja. Bahkan, dalam rekrutmen tenaga kerja di sejumlah ritel modern seperti Indomaret dan Alfamidi, Pemkot Ambon mewajibkan KTP Ambon bagi karyawan yang direkrut.
“Kebijakan ini bukan primordialisme, tetapi keberpihakan kepada warga Kota Ambon yang juga berjuang mencari kerja,” tegasnya.
Wattimena berharap pemerintah kabupaten/kota lain di Maluku turut memikirkan penyediaan lapangan kerja di wilayah masing-masing, agar tidak seluruh pencari kerja bertumpu di Ambon.
Dalam sektor pariwisata, Wali Kota meminta Dinas Pariwisata dan pihak hotel/restoran untuk memprioritaskan produk lokal sebagai komplementer di kamar hotel, seperti jus pala dan produk UMKM lainnya. Ia juga mendorong promosi destinasi wisata dan kuliner Kota Ambon melalui media informasi di kamar hotel.
“Kalau orang sudah tiba di hotel, langsung dapat informasi tentang kuliner dan objek wisata. Itu bagian dari promosi,” ujarnya.
Menjawab persoalan volume sampah yang terus meningkat, Wattimena mengatakan belum ada daerah di Indonesia yang sepenuhnya bebas sampah. Namun, Pemkot Ambon akan berinovasi dengan menghadirkan teknologi pengolahan sampah modern.
Rencananya, akan diterapkan teknologi MRF (Material Recovery Facility) untuk memilah dan mengolah berbagai jenis sampah, serta teknologi pengolahan menjadi briket dan produk lainnya. Dengan sistem tersebut, sampah tidak lagi hanya ditumpuk di TPA seperti sistem konvensional saat ini.
“Kalau mesin-mesin itu sudah ada, berapa pun volume sampah bisa diolah,” tandasnya.
Wattimena menegaskan, konsistensi pelaksanaan 17 program prioritas berpedoman pada RPJMD yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan lima tahun. Tahun pertama telah dilalui, dan program akan terus dilanjutkan hingga tahun kelima dengan evaluasi progres secara menyeluruh.
Wattimena juga menyinggung soal pelantikan raja di sejumlah negeri adat. Ia berharap masyarakat dapat bersepakat dalam mengusulkan calon agar proses pelantikan berjalan baik.
“Pemerintah kota siap melantik, tetapi kalau masyarakat belum bersepakat, proses tidak bisa dipaksakan,” pungkasnya.
Hadir Wakil Wali Kota, Ely Toisutta, Sekkot, Robby Sapulette, serta jajaran OPD Pemkot Ambon. (ZI-21)
